Langsung ke konten utama

#13 Terjemah Matan Tijanu al-Duroriy

Sumber; pribadi
 

Risalah fi al-Tauhid karya Imam al-Syaikh Ibrahim al-Bajuri

Tersebut adalah kitab terjemah matan Tijan al-Durory atau juga disebut Risalah al-Bajuriyah karangan Kyai Maghfur Utsman yang diterbitkan oleh percetakan Menara Kudus. Terdiri dari 63 halaman tanpa halaman sampul.

Penerjemah tidak memberikan kata sambutannya sehingga tidak diketahui pasti tujuan beliau menerjemah. Kata sambutan ditulis oleh KH. Bisri Musthofa, yang menyebut bahwa kitab ini adalah terjemah yang singkat dan mudah difahami. Serta ringkas namun cukup keterangan di dalamnya.

Terulis dalam kata sambutan oleh KH. Bisri Musthofa tertanggal 21 Maret 1970 M/14 Muharram 1390 H di Rembang.

Metode yang beliau gunakan dalam menterjemah adalah memberikan makna gandul perkata atau cara utawi-iki-iku terlebih dahulu dengan bahasa Jawa. Di bawahnya keterangan atau terjemah dengan aksara pegon berbahasa Jawa.

Setelah selesai menjelaskan sifat Allah yang 20 dan beliau memberi kesimpulan dengan membikin jadwal sifat wajib, sifat mustahil, dan sifat jaiz bagi Allah beserta artinya.

Kesimpulan beserta jadwal juga ditulis ketika selesai menjelaskan sifat-sifat Rasul.

Dalam menjelaskan nasab Nabi Muhammad beliai membuat semacam cabang ke atas.

Sekilas, kitab Tijan al-Durory adalah kitab matan tentang Tauhid yang cukup ringkas. Pembahasan di dalamnya hampir sangat mirip dengan nadhom Aqidatul Awwan yang meliputi sifat wajib bagi Allah, sofat jaiz bagi Allah, sifat wajib bagi Rasul, sifat jaiz bagi Rasul, nama-nama para Rasul, silsilah Nabi Muhammad beserta hal-hal yang berhubungan dengannya seprti istri-istri dan putra-putri beliau.

Penerjemah dalam halaman akhir memberikan sebuah penutup yang artinya dalam bahasa Indonesia, "Semoga kitab terjemah ini diberi kemanfaatan di dalam dunia dan akhirat. Jika ada kesalahan dengan sangat saya meminta agar dibenarkan."

Kendal, 08 Maret 2020

Sebelumnya di pos di fb

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kitab Fasholatan; Kita dan Pelajaran Praktik Sholat

Judul: Fasholatan Pengarang: KHR. Asnawi Penysun: Minan Zuhri Arif Penulis: Rodhi Arif Penerbit: Menara Kudus Tebal Kitab:100 Halaman Cetakan Pertama: 1375 Sumber: dokumen pribadi Aku memiliki kenangan akan pelajaran praktek sholat malam selasa semasa kecil. Kukira termasuk kau juga memiliki kenangan yang sama akannya. Namun, di sini yang ingin aku ceritakan adalah segurat kisahku saja. Ya. Kenanganku. Kenanganku akannya. Kisah tentang pelajaran praktek sholat malam selasa. Waktu itu, kami menyebutnya dengan ngaji sembahyang yang dilaksanakan setiap malam selasa. Malam-malam lain untuk belajar membaca Al-Qur'an. Untuk malam jum'at libur dan biasanya diisi pembacaan kitab Maulid Berjanji di masjid dan musholla-musholla. Di dalam belajar sholat aku masih ingat betul, bacaan-bacaan yang ada di dalam sholat aku peroleh dari sebuah kitab kecil bersampul hijau tentang tuntunan sholat dan bacaan-bacaan di dalam sholat beserta artinya dengan judul Fasholatan . ...

Cengkaruk

Namanya cengkaruk. Entah kenapa disebut cengkaruk, mungkin karena cara makannya digaruk pakai tangan. Makanan serupa yang cara makannya digaruk entahlah. Nampaknya hanya ini. Terbuat dari nasi aking. Nasi akingnya harus yang tidak basi saat dijemur dan benar-benar kering. Hal ini berpengaruh nanti saat digoreng. Sebelum digorek ditepeni terlebih dahulu, memilah dan membersihkan dari reget-reget d an res-resan. Tadi saya terhitung kurang beruntung, karena nasi aking yang ada di kandi dan belum dijual kurang baik. Sebab dijemur pada musim-musim macam ini yang tidak menentu, kadang panas, kadang hujan. Jadilah saya ambil intip, yang nampak bersih dan keringnya mendekati sempurna. Lalu saya remuk pakai cowek dan mutu dari batu itu. Untuk menggorengnya harus menggunakan wajan dari tanah. Jika menggunakan wajan yang besi itu nanti gosong. Dan, misal digoreng menggunakan minyak goreng namanya bukan cengkaruk lagi, tapi krecek remuan. Susuknya harus menggunakan impon. Pen...

Rabiul Awwal; Perayaan Hari Lahir al-Musthafa

Sumber; pribadi “ Ya Rabbi Sholli ‘ala Muhammad # Ya Rabbi Sholli ‘alaihi wa Sallim,” pembacaan yang dibuka dan dipimpin oleh seseorang yang kemudian dijawab dengan bacaan yang sama oleh jama’ah bersama-sama. Jika kau berada di tengah-tengah perayaan ini, kau akan merasa kesyahduan dan ketentraman saat lantunan syair itu dibaca bersama-sama. Di atas adalah pembacaan syair sebagai pembuka pembacaan kitab Maulid untuk memperingati hari kelahiran Nabi. Setiap bulan rabi’ul awal, tepatnya tanggal 1 sampai 12 di masjid-masjid, langgar-langgar, majlis ta’lim, pondok-pondok, dan rumah-rumah serentak diadakan pembacaan kitab maulid untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kitab-kitab yang biasa dibaca adalah Barzanji, Diba’, Burdah, dan Simtuth Durror.   Di antara keempatnya yang paling mashur dan paling banyak dibaca adalah kitab Barzanji. Seolah-olah kitab maulud dan Barzanji itu sinonim. Ketika seseorang mengatakan hendak muludan maka yang ada difikiran oran...