Langsung ke konten utama

Postingan

Pesantren Sebagai Agen Toleransi; Menggali Nilai Toleransi di dalam Pesantren

Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk terbanyak ke empat di dunia. Suatu keniscayaan yang tidak terbantahkan bahwa Indonesia adalah negara majemuk yang terdiri dari banyak kelompok suku-bangsa, agama, adat, budaya, dan kedaerahannya masing-masing. Satu sisi menjadi anugerah dan kebanggaan karena keberagaman yang kaya ini dapat menjadi potensi yang besar jika dimanfaatkan dengan semestinya dan tidak setiap negera memiliki keberagaman ini. Namun, di sisi lain perbedaan yang sangat beragam ini rawan terjadi gesekan bahkan konflik antar kelompok jika tidak dikelola dengan baik oleh negara beserta setiap elemen masyarakat di dalamnya bersama-sama. Hal ini dibuktikan dengan beberapa lembar catatan sejarah bangsa ini yang pernah menggoreskan catatan kelam berupa konflik antar golongan yang berlatar, baik antar agama, suku, atau mayoritas-minoritas. Beberapa kejadian tersebut sangat menyayat, bahkan masih menyisahkan trauma berkepanjangan sampai sekarang bagi beberapa belah ...

Pembagian Air

Di dalam fiqh thoharoh air adalah suatu hal paling utama yang digunakan untuk bersuci, baik menghilangkan najis atau menghilangkan hadats. Hal ini berkenaan karena sifat air yang suci dan dapat mensucikan. Batu dan debu hanya digunakan sebagai alternatif saat air tidak ada. Batu hanya sebagai pengganti air yang digunakan untuk menghilangkan najis saat istinja' , sedangkan debu digunakan sebagai pengganti air saat menghilangkan hadats untuk melaksanakan sholat. Air yang bisa digunakan untuk bersuci adalah air mutlak. Air mutlak adalah air yang tidak memiliki ikatan suatu nama. Misalnya air sumur ketika dipindah ke gentong akan disebut air gentong, saat dipindah ke ceret akan disebut air ceret. Berbeda dengan air teh jika dipindah ke wadah lain akan tetap dikatakan air teh. Air teh saat dipindah ke gelas akan tetap disebut air teh, saat dipindah ke botol tetap disebut dengan air teh. Air teh adalah air yang memiliki ikatan nama yang mana saat dipindah ke berbagai tempat tetap diseb...

Alasan Saya Mondok

Saya berusaha memutar waktu ke masa lalu, walau hanya sebatas dalam angan-angan. Lembaran demi lembaran terbuka satu persatu, kenangan itu mulai nampak walau terkesan samar-samar. Memori itu tertindih kenangan-kenangan lain yang berserakan, sehingga butuh usaha lebih untuk memungutnya. Menjelang lulus sekolah dasar pondok bukanlah hal yang saya fikirkan waktu itu. Seusia tersebut pilihan-pilihan termasuk pendidikan masih manut orang yang merawat saya. Jika dipilihkan melanjutkan sekolah di dekat rumah ya ikut saja, kalau dipilihkan yang lumayan jauh ya ngikut juga.  Namun, pilihan itu ternyata jatuh di pesantren. Ya, saya akan dipondokkan selepas lulus dan saya tidak bisa menolak. Pilihannya jatuh di pondok pesantren putra-putri Al-Munawwir Gringsing, Batang. Alasannya pragmatis saja, mbah, yang memondokkan saya adalah salah seorang jama’ah pengajian pendak ahad di majlis pondok pesantren tersebut. Pengajian orang-orang sepuh yang sudah ada semenjak jaman mbah Munawwir seba...