Sumber; pribadi
Tanggul di depan persisi yang sekarang ditumbuhi ilalang dan
semak-semak itu dulunya berjejar pohon-pohon kersen. Sangat banyak dan
memanjang ke arah sana. Naifnya, kami dulu menyebutnya buah ceri.
Bayangan kami memang senyatanya mirip buah ceri yang kami lihat di
tivi-tivi. Walaupun secara kasta jelas sangat timpang. Namun, secara
manfaat buah ini tidak kalah. Coba kalian ketik di mesin pencarian
dengan kata buah kersen, maka daftar teratas akan menampilkan
manfaatnya.
Bagaimana pun, buah itu benar-benar menghiasi masa kecil kami, selain asem, dan mangga sepat, dll. Buah yang bebas kami petik tanpa takut dikejar seseorang sebagai pemiliknya, karena di tanggul ia dikategorikan tanaman liar yang bebas untuk sesiapa saja.
Pada hari tertentu yang kebetulan hari libur, saat sedang musim anak-anak ramai memetik, maka anak dari Ngampel Sari, Sebeo, dan Laban akan tumplek-bek jadi satu. Memanjat satu pohon demi pohon yang padahal bawahnya adalah salah satu dari tiga kali terbesar di Kendal. "Ojo glawanan dolan ning kali gede, tibo dipangan onjo-onjo blaik" begitu biasanya ancam para orang tua jika mendapati anaknya main ke sana. Entahlah, karena senang dan masa kanak-kanak, kami tetap nekat saja.
Selain hari itu ada juga yang mencari kesempatan saat istirahat sekolah, baik sekolah pagi atau sore di MI Sendangdawung . Yang biasanya karena keasikan jadi lupa kalau kami ini masih dalam jam sekolah. Ada satu-dua guru yang sampai menghadang kami di depan kantor. Atau bahkan menyita tas kami.
Sekarang, pohon-pohon itu telah lenyap, karena bagian tanggul tempat pohon-pohon itu tumbuh terkikis sedikit demi sedikit. Jika tadi saya mengambil gambar dari arah barat lagi maka kalian akan mendapati tanggul itu ditambal dengan batu-batu yang ditahan dengan kawat-kawat itu.
Jembatan tepat saya mengambil gabar adalag sisa rel stom pabrik gula Cepiring. Suatu saat saya ceritakan sendiri. Dan, cerita lain tentang sungai dan tanggulnya.
Wallau a'lam
Kendal, 07/04/2020
Bagaimana pun, buah itu benar-benar menghiasi masa kecil kami, selain asem, dan mangga sepat, dll. Buah yang bebas kami petik tanpa takut dikejar seseorang sebagai pemiliknya, karena di tanggul ia dikategorikan tanaman liar yang bebas untuk sesiapa saja.
Pada hari tertentu yang kebetulan hari libur, saat sedang musim anak-anak ramai memetik, maka anak dari Ngampel Sari, Sebeo, dan Laban akan tumplek-bek jadi satu. Memanjat satu pohon demi pohon yang padahal bawahnya adalah salah satu dari tiga kali terbesar di Kendal. "Ojo glawanan dolan ning kali gede, tibo dipangan onjo-onjo blaik" begitu biasanya ancam para orang tua jika mendapati anaknya main ke sana. Entahlah, karena senang dan masa kanak-kanak, kami tetap nekat saja.
Selain hari itu ada juga yang mencari kesempatan saat istirahat sekolah, baik sekolah pagi atau sore di MI Sendangdawung . Yang biasanya karena keasikan jadi lupa kalau kami ini masih dalam jam sekolah. Ada satu-dua guru yang sampai menghadang kami di depan kantor. Atau bahkan menyita tas kami.
Sekarang, pohon-pohon itu telah lenyap, karena bagian tanggul tempat pohon-pohon itu tumbuh terkikis sedikit demi sedikit. Jika tadi saya mengambil gambar dari arah barat lagi maka kalian akan mendapati tanggul itu ditambal dengan batu-batu yang ditahan dengan kawat-kawat itu.
Jembatan tepat saya mengambil gabar adalag sisa rel stom pabrik gula Cepiring. Suatu saat saya ceritakan sendiri. Dan, cerita lain tentang sungai dan tanggulnya.
Wallau a'lam
Kendal, 07/04/2020
Sebelumnya pernah saya pos di fb

Komentar
Posting Komentar