Langsung ke konten utama

#SafariKenangan2; Mak Rip, mak Surip

Sumber; pribadi


Bagi sesiapa yang bersekolah di MTs NU Nur Anom Gringsing tidak aslinglah dengan beliu. Ya, beliau adalah mak Surip. Biasa kami memanggil dengan mak Rip. Salah seorang penjual makanan di sekitaran MTs NU Nur Anom Gringsing yang dikhususkan kepada pelajar yang sekolah di sana.

Warung beliau saat itu, maksudku saat aku masih terdaftar sebagai salah seorang siswa di sana masih berada di seberang jalan sebelah barat dengan menghadap ke timur. Warungnya berukuran kecil saja yang terbuat dari kayu dan dipagari papan.

Sebagai anak pondok yang ketika kiriman langsung habis dalam tempo tiga hari karena buworroos, beliaulah yang menolong kami saat di sekolah, "mak Rip. Njaluk ndisek ya." Jawab beliau, "He'em. Sangger dieleng-eleng wae." Ora apikan piye mborokki. Sak pore.
Biasanya kami bayar dalam jangka waktu satu minggu kemudian setelah dapat kiriman sangu dari rumah.

Satu porsi nasi, es teh, dan gorengan seingatku 1.000 rupiah. Tadi saat ngobrol-ngobrol sudah 3.000 rupiah. Entah hanya nasi dan lauknya atau beserta se teh dan gorengan. Jika lauknya mau nambah ada ayam atau telur ya tinggal nambah bayarnya.

Selepas bel pulang sekolah dan gorengan dagangannya masih ada biasanya anak-anak pondok yang membawa. "Nya gowonen ning pondok."

Sekarang, walau sudah sepuh beliau tetap berjualan. Tepatnya beliau berjualan di rumah, persis di belakang MTs. Kalau masih bingung, di sebelah selatan MTs itu ada gang kecil, sangat kecil, masuk saja ke arah timur. Rumah nomer dua menghadap selatan. Itulah rumah beliau.

Kendal, 09-03-2020
Sebelumnya saya pos di fb

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kitab Fasholatan; Kita dan Pelajaran Praktik Sholat

Judul: Fasholatan Pengarang: KHR. Asnawi Penysun: Minan Zuhri Arif Penulis: Rodhi Arif Penerbit: Menara Kudus Tebal Kitab:100 Halaman Cetakan Pertama: 1375 Sumber: dokumen pribadi Aku memiliki kenangan akan pelajaran praktek sholat malam selasa semasa kecil. Kukira termasuk kau juga memiliki kenangan yang sama akannya. Namun, di sini yang ingin aku ceritakan adalah segurat kisahku saja. Ya. Kenanganku. Kenanganku akannya. Kisah tentang pelajaran praktek sholat malam selasa. Waktu itu, kami menyebutnya dengan ngaji sembahyang yang dilaksanakan setiap malam selasa. Malam-malam lain untuk belajar membaca Al-Qur'an. Untuk malam jum'at libur dan biasanya diisi pembacaan kitab Maulid Berjanji di masjid dan musholla-musholla. Di dalam belajar sholat aku masih ingat betul, bacaan-bacaan yang ada di dalam sholat aku peroleh dari sebuah kitab kecil bersampul hijau tentang tuntunan sholat dan bacaan-bacaan di dalam sholat beserta artinya dengan judul Fasholatan . ...

Cengkaruk

Namanya cengkaruk. Entah kenapa disebut cengkaruk, mungkin karena cara makannya digaruk pakai tangan. Makanan serupa yang cara makannya digaruk entahlah. Nampaknya hanya ini. Terbuat dari nasi aking. Nasi akingnya harus yang tidak basi saat dijemur dan benar-benar kering. Hal ini berpengaruh nanti saat digoreng. Sebelum digorek ditepeni terlebih dahulu, memilah dan membersihkan dari reget-reget d an res-resan. Tadi saya terhitung kurang beruntung, karena nasi aking yang ada di kandi dan belum dijual kurang baik. Sebab dijemur pada musim-musim macam ini yang tidak menentu, kadang panas, kadang hujan. Jadilah saya ambil intip, yang nampak bersih dan keringnya mendekati sempurna. Lalu saya remuk pakai cowek dan mutu dari batu itu. Untuk menggorengnya harus menggunakan wajan dari tanah. Jika menggunakan wajan yang besi itu nanti gosong. Dan, misal digoreng menggunakan minyak goreng namanya bukan cengkaruk lagi, tapi krecek remuan. Susuknya harus menggunakan impon. Pen...

Impon

Sumber; pribadi Namanya impon. Terbuat dari dami atau mereng. Dami dan merang adalah penyebutan untuk pohonnya padi. Saya iku pasti ada yang membedakan kedua istilah itu. Ngarahku, kalau merang itu sudah ditata dan dimanfaatkan untuk suatu hal. Sedang damen yang belum dimanfaatkan dan/atau sudah dibuang. Coba lihat, padi yang dipisahkan dari pohonnya dengan mesin tidak akan bisa disebut dengan merang karena biasa nya pohonnya hancur-lebur. Beda jika menggunakan gepyak atau erek. Hm, rumit-rumit pokokmen. Penyebutan hal-hal yang kaitannya dengan padi bagi orang Jawa memang sangat rumit; pari, menir, beras, upo, intip, aking, sego, bubur, lontong, kupat, dll. Sama halnya penyebutan salju bagi orang-orang Eskimo. Krebelan salju pun mungkin ada namanya. Kembali ke topik. Dulu, alat ini biasanya digunakan untuk bebersih amben atau tempat-tempat tertentu. Hm, mungkin lamat-lamat yang nepel di genteng juga. Selain itu juga digunakan sebagai alat masak pengganti susuk....