Sumber; pribadi
Bagi sesiapa yang bersekolah di MTs NU Nur Anom Gringsing tidak aslinglah dengan beliu. Ya, beliau adalah mak Surip. Biasa kami memanggil dengan mak Rip. Salah seorang penjual makanan di sekitaran MTs NU Nur Anom Gringsing yang dikhususkan kepada pelajar yang sekolah di sana.
Warung beliau saat itu, maksudku saat aku masih terdaftar sebagai salah seorang siswa di sana masih berada di seberang jalan sebelah barat dengan menghadap ke timur. Warungnya berukuran kecil saja yang terbuat dari kayu dan dipagari papan.
Sebagai anak pondok yang ketika kiriman langsung habis dalam tempo tiga hari karena buworroos, beliaulah yang menolong kami saat di sekolah, "mak Rip. Njaluk ndisek ya." Jawab beliau, "He'em. Sangger dieleng-eleng wae." Ora apikan piye mborokki. Sak pore.
Biasanya kami bayar dalam jangka waktu satu minggu kemudian setelah dapat kiriman sangu dari rumah.
Satu porsi nasi, es teh, dan gorengan seingatku 1.000 rupiah. Tadi saat ngobrol-ngobrol sudah 3.000 rupiah. Entah hanya nasi dan lauknya atau beserta se teh dan gorengan. Jika lauknya mau nambah ada ayam atau telur ya tinggal nambah bayarnya.
Selepas bel pulang sekolah dan gorengan dagangannya masih ada biasanya anak-anak pondok yang membawa. "Nya gowonen ning pondok."
Sekarang, walau sudah sepuh beliau tetap berjualan. Tepatnya beliau berjualan di rumah, persis di belakang MTs. Kalau masih bingung, di sebelah selatan MTs itu ada gang kecil, sangat kecil, masuk saja ke arah timur. Rumah nomer dua menghadap selatan. Itulah rumah beliau.
Kendal, 09-03-2020
Sebelumnya saya pos di fb

Komentar
Posting Komentar