Sumber; pribadi
Malam
ini saya nginep di rumah, rumahe mbahe maksudku. Pagi-pagi sekali saat
langit masih remeng-remang saya paksakan jalan-jalan di wetan ndeso biar
seger. Saat sampai gang ke timur di tengah sawah itu saya kok mak
jegagik tertarik untuk mendekat. Mendekat pada suatu kuburan. Kuburan
yang tepat di tengah-tengah pematang sawah yang di timurnya ada tanggul,
timur tanggul kali yang lumayan besar. Salah
satu kali terbesar di Kendal. Kuburan itu sewaktu kecil kami
menyebutnya kuburan keramat, milik dukuh Wonokerto. Dukuh Wonokerto
tepatnya memiliki dua lokasi pemakaman. Satu yang dimaksud, satunya lagi
di sebelah barat yang samping dukuh Ngampel Sari. Kataya yang sebelah
barat adalah pemakaman umum desa, sedang yang timur milik keluarga.
Entahlah. Wallau a'lam.
Dulu, dulu sekali waktu masih kecil terkadang saya dan kawan-kawan saat liburan sekolah main ke lokasi itu, lokasi pada gambar. Baik sekedar melewati, cari susoh manuk (sekarang saya sangat menentang segala bentuk perburuan manuk), atau cari ri pohon randu. Biasanya akan ada beberapa anak yang jadi olok-olokan (dikemudian hari disebut dengan bully) karena takut masuk, "huu, jiden. Cito."
Di dalamnya seingatku ada satu pohon kapuk, ata biasa disebut dengan wit randu yang cukup besar.
Jika tanpa sengaja kau menunjuk ke arah pekuburan dengan jari telunjuk, maka jari telunjukmu harus kau gigit sampai membekas agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Hal yang sekarang orang pada umumnya anggap tiada guna atau entahlah. Tapi harys jujur, seangan-anganku itu mengajarkan dan membiasakan kami anak-anak untuk bertata krama terhadap mereka yang telah tiada.
Dalam buku Kitab Kuning, Pesantran dan Tarekat karangan Martin van Bruinessen, dalam kosmologi Jawa, pekuburan merupakan satu di antara pusat titik temu antara dunia fana kita dengan alam supranatural. Salah satu tempat yang dihormati. Tempat yang banyak diziarahi, atau hal-hal lain yang sifatnya berlainan dengan ajaran agama. Seperti minta nomer misalnya. Wallau a'lam.
Pagi ini pemandangannya nampak indah karena padi hampir mabul, atau hampir keluar padinya. Apalagi malam tadi hujan yang lumayan deras, sehingga titik-titik tetesan yang menempel pada dedaunannya itu menambahi keindahannya.
Dulu saat hujan pasti akan blekuk, atau setengah berlumpur. Sekarang sudah dicor seperti kebanyakan jalan-jalan lain. Sehingga memudahkan saat ada orang-orang yang hendak melewatinya.
Dulu, dulu sekali waktu masih kecil terkadang saya dan kawan-kawan saat liburan sekolah main ke lokasi itu, lokasi pada gambar. Baik sekedar melewati, cari susoh manuk (sekarang saya sangat menentang segala bentuk perburuan manuk), atau cari ri pohon randu. Biasanya akan ada beberapa anak yang jadi olok-olokan (dikemudian hari disebut dengan bully) karena takut masuk, "huu, jiden. Cito."
Di dalamnya seingatku ada satu pohon kapuk, ata biasa disebut dengan wit randu yang cukup besar.
Jika tanpa sengaja kau menunjuk ke arah pekuburan dengan jari telunjuk, maka jari telunjukmu harus kau gigit sampai membekas agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Hal yang sekarang orang pada umumnya anggap tiada guna atau entahlah. Tapi harys jujur, seangan-anganku itu mengajarkan dan membiasakan kami anak-anak untuk bertata krama terhadap mereka yang telah tiada.
Dalam buku Kitab Kuning, Pesantran dan Tarekat karangan Martin van Bruinessen, dalam kosmologi Jawa, pekuburan merupakan satu di antara pusat titik temu antara dunia fana kita dengan alam supranatural. Salah satu tempat yang dihormati. Tempat yang banyak diziarahi, atau hal-hal lain yang sifatnya berlainan dengan ajaran agama. Seperti minta nomer misalnya. Wallau a'lam.
Pagi ini pemandangannya nampak indah karena padi hampir mabul, atau hampir keluar padinya. Apalagi malam tadi hujan yang lumayan deras, sehingga titik-titik tetesan yang menempel pada dedaunannya itu menambahi keindahannya.
Dulu saat hujan pasti akan blekuk, atau setengah berlumpur. Sekarang sudah dicor seperti kebanyakan jalan-jalan lain. Sehingga memudahkan saat ada orang-orang yang hendak melewatinya.

Komentar
Posting Komentar