Sumber; pribadi
Saat di rumah, kamar inilah yang saya pakai. Kamar tinggalan mbah lanang. Tahulah, dari kecil saya ikit si embah.
Kamar ini kecil saja. Terbuat dari kayu; baik rangka, papan-pager, jeruji jendela, jendela, daun jendela, meja, kursi. Hanya ranjang yang dari besi. Untuk rajangnya memakai ranjang model lama, dengan ditutupi klambu yang saat musim nyamuk tinggal diseblakki terlebih dahulu, lalu ditutup. Ranjang model ini sudah sangat langka. Kalau untuk tidur jideh sedikit saja akan bunyi; krengkit-krengkit. Seperti menjerit bahwa ia juga sudah ringkih.
Di dalamnya ada meja yang dulu saat mbah lanang masih hidup berada di ruang tamu yang biasa beliau gunakan untuk ngreken hal-hal tertentu. Biasanya berkaitan dengan sawah dan tetrk-bengeknya. Juga, untuk tadarus al-Qur'an selepas sholat magrib, seingatku.
Setelah beliau tiada meja itu terletak di ruang tengah yang nampaknya setengah terbengkalai. Jadilah saya taruh di dalam kamar sebagai tempat buku dan kitab yang lumayan banyak itu. Dan, satu kursi sebagai tempat saya duduk yang modelnya seperti bangku-bangku sekolah yang tempat duduknya anyaman penjalin tipis-tipis.
Istimewanya, saat buka jendela pagi-pagi pemandangan adalah kebun yang burung-burungnya bersahutan dengan sangat merdu. Biasanya burung kutilang. Dulu burung prenjak juga, tapi entah sekarang sudah sangat jarang.
Kata orang, rumah kayu saat panas tidak terlalu kepanasan. Saat hujan tidak terlalu kedinginan. Menetralkan gitu.
Dan, rumah ini salah satu rumah tertua di kampung. Dibangun semenjak jaman buyut yang sampai sekarang masih utuh.
Banyak sisi lain yang harus diceritakan sendiri-sendiri
Wallahu a'lam
Kendal, 07/04/2020
Kamar ini kecil saja. Terbuat dari kayu; baik rangka, papan-pager, jeruji jendela, jendela, daun jendela, meja, kursi. Hanya ranjang yang dari besi. Untuk rajangnya memakai ranjang model lama, dengan ditutupi klambu yang saat musim nyamuk tinggal diseblakki terlebih dahulu, lalu ditutup. Ranjang model ini sudah sangat langka. Kalau untuk tidur jideh sedikit saja akan bunyi; krengkit-krengkit. Seperti menjerit bahwa ia juga sudah ringkih.
Di dalamnya ada meja yang dulu saat mbah lanang masih hidup berada di ruang tamu yang biasa beliau gunakan untuk ngreken hal-hal tertentu. Biasanya berkaitan dengan sawah dan tetrk-bengeknya. Juga, untuk tadarus al-Qur'an selepas sholat magrib, seingatku.
Setelah beliau tiada meja itu terletak di ruang tengah yang nampaknya setengah terbengkalai. Jadilah saya taruh di dalam kamar sebagai tempat buku dan kitab yang lumayan banyak itu. Dan, satu kursi sebagai tempat saya duduk yang modelnya seperti bangku-bangku sekolah yang tempat duduknya anyaman penjalin tipis-tipis.
Istimewanya, saat buka jendela pagi-pagi pemandangan adalah kebun yang burung-burungnya bersahutan dengan sangat merdu. Biasanya burung kutilang. Dulu burung prenjak juga, tapi entah sekarang sudah sangat jarang.
Kata orang, rumah kayu saat panas tidak terlalu kepanasan. Saat hujan tidak terlalu kedinginan. Menetralkan gitu.
Dan, rumah ini salah satu rumah tertua di kampung. Dibangun semenjak jaman buyut yang sampai sekarang masih utuh.
Banyak sisi lain yang harus diceritakan sendiri-sendiri
Wallahu a'lam
Kendal, 07/04/2020
Sebelumnya pernah saya pos di fb

Komentar
Posting Komentar