Langsung ke konten utama

Hasil Sowan 1

Tadi, 28 Maret 2020 kira-kira jam 8 selepas jama'ah isya saya dan kang Riyanto sowan ke ndalem Abah, Abah Ayyub maksudku, perihal Haflah Akhirussanah. Untuk kepastian haflah nanti diumumkan kemudian nggih, bapak-ibuk..

Di tengah pembicaraan Abah sedikit ngendikan yang menyangkut ngaji tafsir yang sebentar lagi khataman, "sesok muludane ganti ngaji tafsir wae."

Pesantren kami semenjak berdiri sekitar 30 tahun yang lalu ngaji Tafsir Jalalain adalah rutinan setiap sore. Saat khatam diulang lagi. Khatam diulang lagi. Hal ini adalah biasa di pesantren-pesantren tertentu yang memiliki rutinan ngaji kitab-kitab tertentu. Misal Fath Qarib, Arbain Nawawi, Ta'limu al-Muta'alim, dan lain sebagainya. Pokoknya diulang-ulang terus.

Saat khataman nanti akan sedikit mayoran. Biasanya pesan nasi nampanan di mak Harti sejumlah jumlah kamar santri putra, puyri, dan pengurus. Biasanya lauknya kluban, telor dadar, gereh, tahu-tempe yang entah dimasak apa iku.

Rutinan ngaji tafsir Jalalain oleh Abah adalah karena mengikuti mbah KH. Muslih bin Abdurrahman Mranggen di pesantrennya, Futuhiyah. Kau harus tahu abah adalah santri langsung mbah KH. muslih bin Abdurrahman Mranggen. Namun, untuk sanad Tafsirnya beliau memperoleh dari putra mbah KH. Muslih. Entah putra yang mana yang beliau maksud karena tadi tidak menyebut nama.

"Ngaos tafsir niku sampun enten sangking riyen?" kira-kira tanyaku kemudian. Padahal aku sudah tahu jawabannya. Abah sering ngendikan hal itu di sela-sela pengajian. Namun, akhir-akhir ini saya sangat suka mencari informasi seputaran pondok.

Setelahnya abah bercerita sangat banyak hal, perihal kenangan selama mondok beliau di Mranggen beserta guru-gurunya. Ada dua poin yang akan saya tuliskan, tapi besok saja.

Wallau A'lam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kitab Fasholatan; Kita dan Pelajaran Praktik Sholat

Judul: Fasholatan Pengarang: KHR. Asnawi Penysun: Minan Zuhri Arif Penulis: Rodhi Arif Penerbit: Menara Kudus Tebal Kitab:100 Halaman Cetakan Pertama: 1375 Sumber: dokumen pribadi Aku memiliki kenangan akan pelajaran praktek sholat malam selasa semasa kecil. Kukira termasuk kau juga memiliki kenangan yang sama akannya. Namun, di sini yang ingin aku ceritakan adalah segurat kisahku saja. Ya. Kenanganku. Kenanganku akannya. Kisah tentang pelajaran praktek sholat malam selasa. Waktu itu, kami menyebutnya dengan ngaji sembahyang yang dilaksanakan setiap malam selasa. Malam-malam lain untuk belajar membaca Al-Qur'an. Untuk malam jum'at libur dan biasanya diisi pembacaan kitab Maulid Berjanji di masjid dan musholla-musholla. Di dalam belajar sholat aku masih ingat betul, bacaan-bacaan yang ada di dalam sholat aku peroleh dari sebuah kitab kecil bersampul hijau tentang tuntunan sholat dan bacaan-bacaan di dalam sholat beserta artinya dengan judul Fasholatan . ...

Cengkaruk

Namanya cengkaruk. Entah kenapa disebut cengkaruk, mungkin karena cara makannya digaruk pakai tangan. Makanan serupa yang cara makannya digaruk entahlah. Nampaknya hanya ini. Terbuat dari nasi aking. Nasi akingnya harus yang tidak basi saat dijemur dan benar-benar kering. Hal ini berpengaruh nanti saat digoreng. Sebelum digorek ditepeni terlebih dahulu, memilah dan membersihkan dari reget-reget d an res-resan. Tadi saya terhitung kurang beruntung, karena nasi aking yang ada di kandi dan belum dijual kurang baik. Sebab dijemur pada musim-musim macam ini yang tidak menentu, kadang panas, kadang hujan. Jadilah saya ambil intip, yang nampak bersih dan keringnya mendekati sempurna. Lalu saya remuk pakai cowek dan mutu dari batu itu. Untuk menggorengnya harus menggunakan wajan dari tanah. Jika menggunakan wajan yang besi itu nanti gosong. Dan, misal digoreng menggunakan minyak goreng namanya bukan cengkaruk lagi, tapi krecek remuan. Susuknya harus menggunakan impon. Pen...

Rabiul Awwal; Perayaan Hari Lahir al-Musthafa

Sumber; pribadi “ Ya Rabbi Sholli ‘ala Muhammad # Ya Rabbi Sholli ‘alaihi wa Sallim,” pembacaan yang dibuka dan dipimpin oleh seseorang yang kemudian dijawab dengan bacaan yang sama oleh jama’ah bersama-sama. Jika kau berada di tengah-tengah perayaan ini, kau akan merasa kesyahduan dan ketentraman saat lantunan syair itu dibaca bersama-sama. Di atas adalah pembacaan syair sebagai pembuka pembacaan kitab Maulid untuk memperingati hari kelahiran Nabi. Setiap bulan rabi’ul awal, tepatnya tanggal 1 sampai 12 di masjid-masjid, langgar-langgar, majlis ta’lim, pondok-pondok, dan rumah-rumah serentak diadakan pembacaan kitab maulid untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kitab-kitab yang biasa dibaca adalah Barzanji, Diba’, Burdah, dan Simtuth Durror.   Di antara keempatnya yang paling mashur dan paling banyak dibaca adalah kitab Barzanji. Seolah-olah kitab maulud dan Barzanji itu sinonim. Ketika seseorang mengatakan hendak muludan maka yang ada difikiran oran...