Sumber; pribadi
Selama di rumah, baiknya saya tulis hal-hal yang kaitannya dengan rumah. Apa saja, yang kaitannyalah dengan kenangan.
Tadi, baru saja saat berkendara melewati kulon ndeso, banyak saya dapati orang-orang itu sedang memanen padi. Bolehlah kau sebut panenan pari atau ngunduh pari. Namun, istilah paling keren untuk ini adalah derep.
Rombongan orang itu jika dari jauh asalnya disebut dengan boro. Biasanya sudah bekerja sama dengan tempat-tempat penggilingan padi tertentu yang sudah cukup besar sebagai sebuah perusahaan. Itu jika padimu ingin ditebaskan langsung.
Beda lagi jika padi yang kau panen ingin disimpan terlebih dahulu, karena musim panen biasanya harga padi masih murah. Sekarang satu kintal kisaran 460.000. Padi yang kau simpan itu hendak dijual beberapa saat kemudian ketika harga padi telah naik.
Maka, kau harus cari orang-orang derep. Cukup meminta kepada mereka yang memiliki mesin. Si pemilik mesin sudah sekaligus membawa orang-orang yang memanen. Maksudku mesin gilingan untuk memiashkan padi dengan pohonnya. Eh, padi ki suket apa uwit sih.
Mesin penggiling padi untuk memisahkan bijinya mengalami evolusi dari masa ke masa. Dulu, dulu sekali saat saya masih kecil alat yang digunakan disebut dengan gepyak. Seingatku alat itu kecil saja berbentuk kotak berbahan kayu, di tengahnya dipasang besi-besi yang jika dilihat lebih mirip pintu jendela yang dicopot dari tempatnya. Cara pakainya yang telah dipotong dari pohonnya dicakup pada kedua tangan, semampunya berapa banyak. Kemudian dipukulkan pada itu alat. Berulang-ulang sampai padinya tak tersisa. Pyok-pyok-pyok. Begitulah suaranya.
Alat selanjutnya disebut dengan erek. Alat ini nampaknya tidak dijual di toko-toko alat pertanian, tapi pesan di tukang las atau entah pastinya saya tidak tahu. Alat itu seperti modifikasi sepeda. Bentuknya seperti tong yang ditanami paku-paku. Cara pakainya cukup digenjot dan padi-padi yang baru dipotong dari pohonnya diadu dengan paku-paku itu. Krayak-krayak-krayak. Begitulah suaranya; syahdu.
Evolusi alat selanjutnya menggunakan mesin disel. Ini alat yang paling banyak digunakan saat ini. Tak perlu saya kelaskan lebih lanjut bentuk dan cara kerjanya. Kalian sudah pada tahu tak kira.
Alat yang terakhir, paling modern bentuknya mirip tank panter milik Jerman di perang dunia kedua. Yang mengoperasikan cukup dua orang dan tidak membutuhkan waktu cukup lama. Cukup alat itu masuk sawah yang siap dipanen, tanpa potong pohonnya, padinya langsung bisa diwadahi pada karung.
Namun, alat yang keempat itu memunahkan satu hal; orang tetek. Orang tetek adalah orang yang mecari padi sisa di tumpukan-tumpukan dami, atau ngazak. Mereka menelateni sedikit demi sedikit. Disilir perlahan. Jumput demi jumput padi dikumpulkan untuk keluarga di rumah.
Wallahu a'lam
Kendal, 06/04/2020
Tadi, baru saja saat berkendara melewati kulon ndeso, banyak saya dapati orang-orang itu sedang memanen padi. Bolehlah kau sebut panenan pari atau ngunduh pari. Namun, istilah paling keren untuk ini adalah derep.
Rombongan orang itu jika dari jauh asalnya disebut dengan boro. Biasanya sudah bekerja sama dengan tempat-tempat penggilingan padi tertentu yang sudah cukup besar sebagai sebuah perusahaan. Itu jika padimu ingin ditebaskan langsung.
Beda lagi jika padi yang kau panen ingin disimpan terlebih dahulu, karena musim panen biasanya harga padi masih murah. Sekarang satu kintal kisaran 460.000. Padi yang kau simpan itu hendak dijual beberapa saat kemudian ketika harga padi telah naik.
Maka, kau harus cari orang-orang derep. Cukup meminta kepada mereka yang memiliki mesin. Si pemilik mesin sudah sekaligus membawa orang-orang yang memanen. Maksudku mesin gilingan untuk memiashkan padi dengan pohonnya. Eh, padi ki suket apa uwit sih.
Mesin penggiling padi untuk memisahkan bijinya mengalami evolusi dari masa ke masa. Dulu, dulu sekali saat saya masih kecil alat yang digunakan disebut dengan gepyak. Seingatku alat itu kecil saja berbentuk kotak berbahan kayu, di tengahnya dipasang besi-besi yang jika dilihat lebih mirip pintu jendela yang dicopot dari tempatnya. Cara pakainya yang telah dipotong dari pohonnya dicakup pada kedua tangan, semampunya berapa banyak. Kemudian dipukulkan pada itu alat. Berulang-ulang sampai padinya tak tersisa. Pyok-pyok-pyok. Begitulah suaranya.
Alat selanjutnya disebut dengan erek. Alat ini nampaknya tidak dijual di toko-toko alat pertanian, tapi pesan di tukang las atau entah pastinya saya tidak tahu. Alat itu seperti modifikasi sepeda. Bentuknya seperti tong yang ditanami paku-paku. Cara pakainya cukup digenjot dan padi-padi yang baru dipotong dari pohonnya diadu dengan paku-paku itu. Krayak-krayak-krayak. Begitulah suaranya; syahdu.
Evolusi alat selanjutnya menggunakan mesin disel. Ini alat yang paling banyak digunakan saat ini. Tak perlu saya kelaskan lebih lanjut bentuk dan cara kerjanya. Kalian sudah pada tahu tak kira.
Alat yang terakhir, paling modern bentuknya mirip tank panter milik Jerman di perang dunia kedua. Yang mengoperasikan cukup dua orang dan tidak membutuhkan waktu cukup lama. Cukup alat itu masuk sawah yang siap dipanen, tanpa potong pohonnya, padinya langsung bisa diwadahi pada karung.
Namun, alat yang keempat itu memunahkan satu hal; orang tetek. Orang tetek adalah orang yang mecari padi sisa di tumpukan-tumpukan dami, atau ngazak. Mereka menelateni sedikit demi sedikit. Disilir perlahan. Jumput demi jumput padi dikumpulkan untuk keluarga di rumah.
Wallahu a'lam
Kendal, 06/04/2020
Sebelumnya pernah saya pos di fb

Komentar
Posting Komentar