Saat saya masih kecil satu di antara hal yang sangat menggembirakan adalah bancaan. Bancaan ini khusus bagi anak-anak. Biasanya saat kami dolanan langsung dipanggil si empunya bancaan, "rene. Bancaan. Ayo do kumpul." Lain keadaan terkadang diundang terlebih dahulu di rumah masing-masing untuk bancaan di hari yang telah ditentukan.
Bancaan yang dibungkus daun pisang itu biasanya diletakkan pada wadah berupa tampah. Kami mengelilinginya dan berdo'a bersama dengan dipimpin oleh salah seorang di antara kami. Do'a itu berbahasa Jawa. Seingatku liriknya:
Bismillah iku kanggo kawitan Alhamdulillah
Muji ing Allah kawula wergo iku kuncoro
Awit barokah luwih utomo Alhamdulillah
Diulang-ulang sampai si empunya bancaan meminta berhenti. "Wis, dibagi siji-siji," begitu biasanya beliau meminta agar dibagi satu-satu.
Setelah kami memperoleh satu-satu biasanya kami makan bersama-sama. Biasanya isinya berupa sepotong telur dadar, kluban, tempe, dan gereh. Sederhana, namun begitu nikmat. Jika sedang beruntung, akan ada kempyuran uang receh.
Sekarang, setelah saya tanya-tanya mak lik bancaan model itu satu-dua masih ada. Namun, menunya bukan lagi bungkusan macam itu. Anak-anak banyak yang enggan. Jajanannya seringnya jajanan toko-toko dan diberi beberapa rupiyah uang. Tapi, juga seringnya tidak dikumpulkan. Lebih ke dibagi-bagi ke rumah masing-masing.
Ini wajar saja, sekarang anak-anak main kumpul bareng jarang. Seringnya asik di rumah masing-masing main HP, mungkin.
Bancaan yang dibungkus daun pisang itu biasanya diletakkan pada wadah berupa tampah. Kami mengelilinginya dan berdo'a bersama dengan dipimpin oleh salah seorang di antara kami. Do'a itu berbahasa Jawa. Seingatku liriknya:
Bismillah iku kanggo kawitan Alhamdulillah
Muji ing Allah kawula wergo iku kuncoro
Awit barokah luwih utomo Alhamdulillah
Diulang-ulang sampai si empunya bancaan meminta berhenti. "Wis, dibagi siji-siji," begitu biasanya beliau meminta agar dibagi satu-satu.
Setelah kami memperoleh satu-satu biasanya kami makan bersama-sama. Biasanya isinya berupa sepotong telur dadar, kluban, tempe, dan gereh. Sederhana, namun begitu nikmat. Jika sedang beruntung, akan ada kempyuran uang receh.
Sekarang, setelah saya tanya-tanya mak lik bancaan model itu satu-dua masih ada. Namun, menunya bukan lagi bungkusan macam itu. Anak-anak banyak yang enggan. Jajanannya seringnya jajanan toko-toko dan diberi beberapa rupiyah uang. Tapi, juga seringnya tidak dikumpulkan. Lebih ke dibagi-bagi ke rumah masing-masing.
Ini wajar saja, sekarang anak-anak main kumpul bareng jarang. Seringnya asik di rumah masing-masing main HP, mungkin.
Komentar
Posting Komentar