Langsung ke konten utama

Bancaan Anak-anak

Saat saya masih kecil satu di antara hal yang sangat menggembirakan adalah bancaan. Bancaan ini khusus bagi anak-anak. Biasanya saat kami dolanan langsung dipanggil si empunya bancaan, "rene. Bancaan. Ayo do kumpul." Lain keadaan terkadang diundang terlebih dahulu di rumah masing-masing untuk bancaan di hari yang telah ditentukan.

Bancaan yang dibungkus daun pisang itu biasanya diletakkan pada wadah berupa tampah. Kami mengelilinginya dan berdo'a bersama dengan dipimpin oleh salah seorang di antara kami. Do'a itu berbahasa Jawa. Seingatku liriknya:

Bismillah iku kanggo kawitan Alhamdulillah
Muji ing Allah kawula wergo iku kuncoro
Awit barokah luwih utomo Alhamdulillah

Diulang-ulang sampai si empunya bancaan meminta berhenti. "Wis, dibagi siji-siji," begitu biasanya beliau meminta agar dibagi satu-satu.

Setelah kami memperoleh satu-satu biasanya kami makan bersama-sama. Biasanya isinya berupa sepotong telur dadar, kluban, tempe, dan gereh. Sederhana, namun begitu nikmat. Jika sedang beruntung, akan ada kempyuran uang receh.

Sekarang, setelah saya tanya-tanya mak lik bancaan model itu satu-dua masih ada. Namun, menunya bukan lagi bungkusan macam itu. Anak-anak banyak yang enggan. Jajanannya seringnya jajanan toko-toko dan diberi beberapa rupiyah uang. Tapi, juga seringnya tidak dikumpulkan. Lebih ke dibagi-bagi ke rumah masing-masing.

Ini wajar saja, sekarang anak-anak main kumpul bareng jarang. Seringnya asik di rumah masing-masing main HP, mungkin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kitab Fasholatan; Kita dan Pelajaran Praktik Sholat

Judul: Fasholatan Pengarang: KHR. Asnawi Penysun: Minan Zuhri Arif Penulis: Rodhi Arif Penerbit: Menara Kudus Tebal Kitab:100 Halaman Cetakan Pertama: 1375 Sumber: dokumen pribadi Aku memiliki kenangan akan pelajaran praktek sholat malam selasa semasa kecil. Kukira termasuk kau juga memiliki kenangan yang sama akannya. Namun, di sini yang ingin aku ceritakan adalah segurat kisahku saja. Ya. Kenanganku. Kenanganku akannya. Kisah tentang pelajaran praktek sholat malam selasa. Waktu itu, kami menyebutnya dengan ngaji sembahyang yang dilaksanakan setiap malam selasa. Malam-malam lain untuk belajar membaca Al-Qur'an. Untuk malam jum'at libur dan biasanya diisi pembacaan kitab Maulid Berjanji di masjid dan musholla-musholla. Di dalam belajar sholat aku masih ingat betul, bacaan-bacaan yang ada di dalam sholat aku peroleh dari sebuah kitab kecil bersampul hijau tentang tuntunan sholat dan bacaan-bacaan di dalam sholat beserta artinya dengan judul Fasholatan . ...

Cengkaruk

Namanya cengkaruk. Entah kenapa disebut cengkaruk, mungkin karena cara makannya digaruk pakai tangan. Makanan serupa yang cara makannya digaruk entahlah. Nampaknya hanya ini. Terbuat dari nasi aking. Nasi akingnya harus yang tidak basi saat dijemur dan benar-benar kering. Hal ini berpengaruh nanti saat digoreng. Sebelum digorek ditepeni terlebih dahulu, memilah dan membersihkan dari reget-reget d an res-resan. Tadi saya terhitung kurang beruntung, karena nasi aking yang ada di kandi dan belum dijual kurang baik. Sebab dijemur pada musim-musim macam ini yang tidak menentu, kadang panas, kadang hujan. Jadilah saya ambil intip, yang nampak bersih dan keringnya mendekati sempurna. Lalu saya remuk pakai cowek dan mutu dari batu itu. Untuk menggorengnya harus menggunakan wajan dari tanah. Jika menggunakan wajan yang besi itu nanti gosong. Dan, misal digoreng menggunakan minyak goreng namanya bukan cengkaruk lagi, tapi krecek remuan. Susuknya harus menggunakan impon. Pen...

Impon

Sumber; pribadi Namanya impon. Terbuat dari dami atau mereng. Dami dan merang adalah penyebutan untuk pohonnya padi. Saya iku pasti ada yang membedakan kedua istilah itu. Ngarahku, kalau merang itu sudah ditata dan dimanfaatkan untuk suatu hal. Sedang damen yang belum dimanfaatkan dan/atau sudah dibuang. Coba lihat, padi yang dipisahkan dari pohonnya dengan mesin tidak akan bisa disebut dengan merang karena biasa nya pohonnya hancur-lebur. Beda jika menggunakan gepyak atau erek. Hm, rumit-rumit pokokmen. Penyebutan hal-hal yang kaitannya dengan padi bagi orang Jawa memang sangat rumit; pari, menir, beras, upo, intip, aking, sego, bubur, lontong, kupat, dll. Sama halnya penyebutan salju bagi orang-orang Eskimo. Krebelan salju pun mungkin ada namanya. Kembali ke topik. Dulu, alat ini biasanya digunakan untuk bebersih amben atau tempat-tempat tertentu. Hm, mungkin lamat-lamat yang nepel di genteng juga. Selain itu juga digunakan sebagai alat masak pengganti susuk....