Langsung ke konten utama

Angkot No 26

Dulu ketika masih di Gringsing saat pulang ngajak kawan pasti akan berkomentar, "omahmu plosok men". Itu berkali-kali yang terkadang membikin saya ciut. Pernah di perjalanan saat naik angkot kawan saya tanya pada penumpang lain, "Sendang Kulon tasih tebe, mbak?. Orang yang ditanyai jawab, "jek adoh mas. Lumayan. Urung ono setengah jalan."

Waktu itu untuk sampai di kampung saya harus naik montor kuning nomer 26 dari Weleri, yang ngetem di samping Bakso itu lho. Nunggu penumpang sampai penuh yang lumayan lama. Perjalanan melewati Tratemulyo, ke utara terus sampai Sendang Dawuhan, kemudian ke timur, terus lurus sampai Pojok Sari, lanjut ke Utara sampai pasar Sendang Kulon atau patung pak tani di Wonokerto. Dua-duanya bisa dilewati. Kalau mau lancar ke utaranya berhenti pasar Sendang Kulon. Kalau mau yang sedikit menantang lewat patung pak tani.

Kautaranya kalau tidak ada jemputan, alias yang njemput tidak bisa maka harus jalan kaki yang kurang lebih membutuhkan waktu 20-30 menit.
Ada moda transportasi yang bisa langsung sampai depan rumah, yaitu dokar. Tapi kurang menjadi pilihan karena agak mahal dan nampaknya waktu itu malu saja jika naik dokar. Tapi sekarang malah seneng saya.

Hal lain, orang-orang, maksudku kawan-kawan itu jadi tahu kalau kampung saya itu dekat dengan Kemangi yang terkenal dan sohor itu. "Awakmu cepak kemangi? Piye ceritakke"
Kemangi di mana-mana memang terkenal dengan cerita mistisnya. Waktu kecil kami diwanti-wanti untuk tidak mendekat ke sana. Konon saat seseorang masuk ke sana tidak akan bisa keluar lagi kecuali dengan syarat tertentu.

Salah seorang guruku di Gringsing bercerita, bahwa salah seorang anak sesulurnya yang hendak disunat tiba-tiba hilang. Setelah minta petunjuk orang pintar diketahui anak tersebut diumpetke di Kemangi. Bisa kembali dengan selamat sengan syarat tertentu. Akhirnya syarat dipenipuhi dan anak tersebut dikembalikan.

Saat di Semarang pun, salah seorang dosen bercerita dulu ada sebuah tronton bermuatan sepeda motor nyasar masuk jalan di sekitaran pasar Kangkung itu. Aneh dong, trek semono gedene mlebu kangkung yang jalan utamanya tidak terlalu besar. Sekarang sudah agak lebar si. Setelah ditanyai mau kemana, si sopir menunjukkan alamat dan alamatnya Kemangi.
Dan, masih banyak lagi cerita-cerita serupa seperti diundang adang di sana setelah pulang amplop bayarannya berisi daun.

Cerita kemistisan Kemangi, konon bermula saat dulu Sultan Agung memutuskan beeperang melawan Belanda di Batavia. Diputuskan juga panglima perang yang akan memimpin adalah Tumenggung Bahutekso, Adipati Kendal. Kemudian Tumenggung Bahurekso memutuskan tempat rapat penyusunan penyerangan di suatu tempat yang tidak diketahui oleh mata-mata. Suatu tempat di dekat pantai. Tempat yang sekarang dikenal dengan kemangi tersebut.

Agar tidak diketahui orang luar, konon tempat tersebut ditutup dan dijaga berlapislapis oleh ki Ageng kemangi dengan kekuatannya. Dan entah bagaimana ceritanya, penutup tersebut tidak dibuka kembali sampai sekarang. Sehingga orang-orang yang masuk tidak keluar kembali.

***
Kembali ke topik. Rumah saya memang bisa dikata paling plosok. Dukuh kecil yang hanya satu gang setengah, dikelilingi persawahan.

Namun, sekarang saat saya telah melalang buana ke entah mana saja. Memikiki rumah di daerah plosok ternyata adalah anugrah. Ya, damai. Tenang. Jauh dari kebisingan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kitab Fasholatan; Kita dan Pelajaran Praktik Sholat

Judul: Fasholatan Pengarang: KHR. Asnawi Penysun: Minan Zuhri Arif Penulis: Rodhi Arif Penerbit: Menara Kudus Tebal Kitab:100 Halaman Cetakan Pertama: 1375 Sumber: dokumen pribadi Aku memiliki kenangan akan pelajaran praktek sholat malam selasa semasa kecil. Kukira termasuk kau juga memiliki kenangan yang sama akannya. Namun, di sini yang ingin aku ceritakan adalah segurat kisahku saja. Ya. Kenanganku. Kenanganku akannya. Kisah tentang pelajaran praktek sholat malam selasa. Waktu itu, kami menyebutnya dengan ngaji sembahyang yang dilaksanakan setiap malam selasa. Malam-malam lain untuk belajar membaca Al-Qur'an. Untuk malam jum'at libur dan biasanya diisi pembacaan kitab Maulid Berjanji di masjid dan musholla-musholla. Di dalam belajar sholat aku masih ingat betul, bacaan-bacaan yang ada di dalam sholat aku peroleh dari sebuah kitab kecil bersampul hijau tentang tuntunan sholat dan bacaan-bacaan di dalam sholat beserta artinya dengan judul Fasholatan . ...

Cengkaruk

Namanya cengkaruk. Entah kenapa disebut cengkaruk, mungkin karena cara makannya digaruk pakai tangan. Makanan serupa yang cara makannya digaruk entahlah. Nampaknya hanya ini. Terbuat dari nasi aking. Nasi akingnya harus yang tidak basi saat dijemur dan benar-benar kering. Hal ini berpengaruh nanti saat digoreng. Sebelum digorek ditepeni terlebih dahulu, memilah dan membersihkan dari reget-reget d an res-resan. Tadi saya terhitung kurang beruntung, karena nasi aking yang ada di kandi dan belum dijual kurang baik. Sebab dijemur pada musim-musim macam ini yang tidak menentu, kadang panas, kadang hujan. Jadilah saya ambil intip, yang nampak bersih dan keringnya mendekati sempurna. Lalu saya remuk pakai cowek dan mutu dari batu itu. Untuk menggorengnya harus menggunakan wajan dari tanah. Jika menggunakan wajan yang besi itu nanti gosong. Dan, misal digoreng menggunakan minyak goreng namanya bukan cengkaruk lagi, tapi krecek remuan. Susuknya harus menggunakan impon. Pen...

Rabiul Awwal; Perayaan Hari Lahir al-Musthafa

Sumber; pribadi “ Ya Rabbi Sholli ‘ala Muhammad # Ya Rabbi Sholli ‘alaihi wa Sallim,” pembacaan yang dibuka dan dipimpin oleh seseorang yang kemudian dijawab dengan bacaan yang sama oleh jama’ah bersama-sama. Jika kau berada di tengah-tengah perayaan ini, kau akan merasa kesyahduan dan ketentraman saat lantunan syair itu dibaca bersama-sama. Di atas adalah pembacaan syair sebagai pembuka pembacaan kitab Maulid untuk memperingati hari kelahiran Nabi. Setiap bulan rabi’ul awal, tepatnya tanggal 1 sampai 12 di masjid-masjid, langgar-langgar, majlis ta’lim, pondok-pondok, dan rumah-rumah serentak diadakan pembacaan kitab maulid untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Kitab-kitab yang biasa dibaca adalah Barzanji, Diba’, Burdah, dan Simtuth Durror.   Di antara keempatnya yang paling mashur dan paling banyak dibaca adalah kitab Barzanji. Seolah-olah kitab maulud dan Barzanji itu sinonim. Ketika seseorang mengatakan hendak muludan maka yang ada difikiran oran...