Sumber; Pribadi
Seperti tertera dalam judul, kitab ini menerangkan tentang keadaan akhir zaman. Lebih tepatnya, nampaknya keadaan manusia-manusia akhir zaman. Bab-bab yang selamat di dalamnya meliputi: remaja masa kini, wanita zaman akhir, taibat lan nyuwun perlindungan Allah.
Bait-bait di dalam kitab ini ditulis dengan bahar rojaz, beraksara pegon berbahasa Jawa ngoko. Pemilihan bahasa Jawa ngoko ini nampaknya agar diketaui juga oleh orang awam. Lebih-lebih mereka yang menjadi sasaran dakwah dalam kitab ini.
Saya ambilkan separo bait saja sebagai renungan, "katanya daripada ngaji mending nonton film". Anggaplah pilem pada jaman itu, pada jaman kitab ini ditulis, ditulis pada tahun 70-an napaknya, pilem mulai ada. Baik di layar tancep, bioskup, atau televisi pribadi. Initinya masih sedikit yang bisa akses ke sana. Itu pun sudah membikin resah penulis.
Dan, tahun-tahun berikitnya, kisaran awal 2000-an saat televisi mulai banyak yang memiliki, guru-guru ngaji di musholla bakda mahrib yang dibikin pusing.
Sekarang, eranya HP pintar sebagai hiburan-Kyai saya mengistilahkan dengan setan gepeng- sesiapapun guru dan orang tua-lah yabg dibikin pusing. Karena, senyatanya benda tersebut benar-benar melalaikan, menyita waktu, dan membikin jarak dengan orang-orag terdekat. Belum akses akannya tak terbatas yang terkadang lebih banyak hal-hal negatifnya.
Masalah hape adalah masalah sudut pandang yang menggunakan. Bukan berarti pelarangan secata total. Akan tetapi kontrol akannya lah. Bijaknya, seharusnya pada usia-usia tertuntu belum layak menghunakan. Karena memang kontrol dirinya belum matang betul. Barulah jika sudah matang ia boleh mengunakannya, pastinya dengan tujuan suatu pemanfaatan ke arah yang positip.
Penutup
Dalam akhir bait pengarang memberikan beberapa informasi penting terkait dirinya dan kitab ini:
Kitab ini dikarang oleh Ahmaf Zubairi yang lahir di Jawa Tengah. Nama ayahnya adalah Haji Zainuddin. Nama ibunya adalah Hajah Habibah. (Saat kitab ini dituli) keduanya telah wafat. Ayahnya berasal dari Ngumbak Kedungjati, Purwodadi yang Kota Semarang ibu kota propinsinya. Ibu berasal dari dukuh Magersari, Kacangan, Andong, Boyolali yang Surakarta-Solo adalah karisedannya. Gubernurnya memerintah di Semarang.
Pengarang lahir di Kedungjati, dukuh Berangkah. Saat menulis kitab bermukim di Banyuwangi, depan madrasah-pondoknua KH. Abdul Malik yang masyhur dengan Lukani, dukuh Perasgemnal, desa Sumberberas, kecamatan Muncar.
Selesai ditulis pada bati sabtu pahing siang tanggal 21 rajab tahun 1399 H.
Walalu a'lam
Kendal, 16/03/2020
Sebelumnya saya pos di fb

Komentar
Posting Komentar